Showing posts with label Techno. Show all posts
Kriminal, Techno
Jakarta - M Prio Santoso alias Rio (24), tersangka pembunuh Deudeuh Alfisahrin (26) memakai akun @santos06yoyo untuk berkomunikasi dengan Deudeuh di akun @Tataa_Chubby. Namun ternyata, Rio memiliki akun Twitter asli dengan nama akun @Santoso_M_Prio.
Dalam akun itu, Rio memakai nama M Prio Santoso dengan foto diri saat dirinya masih berambut kribo. Saat digelandang polisi, Rio tampak berambut plontos.
Komentar-komentar di akun Twitter itu tampak wajar. Tak ada sapaan-sapaan genit dengan perempuan seperti di akun Rio satunya, @santos06yoyo. Di akun nyatanya, dia juga sempat menyebutkan nama lembaga bimbingan belajar tempatnya bekerja di kawasan Jakarta Barat.
Sesekali dia mencuit dengan nada memberikan semangat pada anak didiknya. Seperti, "Yg ngajarin seneng apa lagi yg dpt nilai segitu, hahahaha, nice job kids".
Rio juga sempat mencuitkan bahwa teknologi itu mempermudah untuk berbuat buruk.
seiring berjalannya teknologi, makin mudah pula akses untuk berbuat buruk,
— M Prio Santoso (@Santoso_M_Prio) 3 Agustus 2013
Pemandangan ini berbeda dengan akun Rio lainnya yakni @santos06yoyo. Tak ada foto Rio di sana, namun sejumlah cuitannya bernada genit dan berisi ajakan kencan terhadap para akun alter 'bisyar'. Salah satunya adalah @Tataa_chubby, wanita yang dibunuhnya saat berhubungan badan. [Detik]
Kriminal, Techno
JAKARTA - Sesaat sebelum ditemukan tewas di kamar kostnya, tepatnya tanggal
(hanya 1 orang yang mengomentari-red) di jejaring sosial 140 karakter itu.
Apakah cuitan tersebut merupakan firasat Deudeuh yang merasa bahwa dia akan bertemu dengan pelanggan terakhir dan berujung pada pembunuhan dirinya? Hanya dia yang tau.
Berikut kutipan cuitan Deudeuh (@tataa_chubby) :
Tuhan tdk mgkn mempertemukan sy dgn tamu yg hany bs byr tp low attituted :)
— TATAA_CHUBBY (NO DP) (@tataa_chubby) 9 April 2015
Featured, News, Techno
Jakarta - Google membuka App Runtime for Chrome (ARC) ke pengembang. Alhasil para pengembang Android dapat menjalankan aplikasinya ke beragam desktop lewat Chrome Browser.
ARC sendiri merupakan proyek yang memungkinkan aplikasi Android dijalankan di Chrome OS. Mulanya, proyek ini terbatas pada sekelompok kecil pengembang dengan Google. Namun sekarang Google merilis sebuah paket baru Chrome yang memperbolehkan siapapun menjalankan aplikasi Android mereka di Windows, Mac, Linux dan Chrome OS.
Google menyiapkan sebuah aplikasi berbasis Chrome bernama ARC Welder. Aplikasi ini akan menangani konversi mobile ke desktop saat menjalankan file berbasis APK. Laman Ars Technica telah menjajal tools ini dengan menjalankan Twitter Andorid di Windows. Hasilnya aplikasi tersebut berjalan mulus.
ARC menyertakan Google Play Services, yang mana dibutuhkan dalam menjalankan aplikasi tertentu yang menggunakan OAuth2, Google Cloud Messaging, Google+ sign-in dan layanan lain dari Google. Namun saat ini tidak semua layanan di Google Play tercakup dalam ARC. Terutama aplikasi berbayar yang saat diujicoba tidak dapat berjalan mulus.
Semoga saja Google memperbaiki hal tersebut sehingga memungkinkan lebih banyak aplikasi yang dapat berjalan di desktop. Jadi kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.[detik]
ARC sendiri merupakan proyek yang memungkinkan aplikasi Android dijalankan di Chrome OS. Mulanya, proyek ini terbatas pada sekelompok kecil pengembang dengan Google. Namun sekarang Google merilis sebuah paket baru Chrome yang memperbolehkan siapapun menjalankan aplikasi Android mereka di Windows, Mac, Linux dan Chrome OS.
Google menyiapkan sebuah aplikasi berbasis Chrome bernama ARC Welder. Aplikasi ini akan menangani konversi mobile ke desktop saat menjalankan file berbasis APK. Laman Ars Technica telah menjajal tools ini dengan menjalankan Twitter Andorid di Windows. Hasilnya aplikasi tersebut berjalan mulus.
ARC menyertakan Google Play Services, yang mana dibutuhkan dalam menjalankan aplikasi tertentu yang menggunakan OAuth2, Google Cloud Messaging, Google+ sign-in dan layanan lain dari Google. Namun saat ini tidak semua layanan di Google Play tercakup dalam ARC. Terutama aplikasi berbayar yang saat diujicoba tidak dapat berjalan mulus.
Semoga saja Google memperbaiki hal tersebut sehingga memungkinkan lebih banyak aplikasi yang dapat berjalan di desktop. Jadi kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.[detik]

